Sabtu, 13 Desember 2025

Ilmu Tidak Didapatkan dengan Tubuh yang Santai: Perjuangan, Kesungguhan, dan Pengorbanan dalam Menuntut Ilmu

 

Dalam dunia yang serba instan—di mana segala sesuatu bisa didapat dengan sekali klik—banyak orang berharap ilmu agama juga bisa datang tanpa usaha: cukup dengan scroll media sosial, tonton video pendek, atau dengar podcast sambil rebahan. Namun, para ulama salaf mengingatkan kita dengan nasihat yang tajam:

لَا يُسْتَطَاعُ الْعِلْمُ بِرَاحَةِ الْجَسَدِ
"Ilmu tidak bisa diraih dengan tubuh yang santai (nyaman)."

Kalimat ini bukan sekadar puitis, tapi kenyataan spiritual dan sejarah. Ilmu yang bermanfaat—ilmu yang menyinari hati, mengubah akhlak, dan mengantarkan ke surga—tidak datang kepada yang malas, yang selalu mencari kenyamanan, atau yang enggan bersusah payah.


Ilmu Itu Mahal, Dibayar dengan Pengorbanan

Rasulullah ﷺ bersabda:

مَنْ سَلَكَ طَرِيقًا يَلْتَمِسُ فِيهِ عِلْمًا، سَهَّلَ اللَّهُ لَهُ بِهِ طَرِيقًا إِلَى الْجَنَّةِ
"Barangsiapa menempuh suatu jalan untuk menuntut ilmu, niscaya Allah memudahkan baginya jalan menuju surga."
(HR. Muslim)

Perhatikan: "menempuh jalan" — bukan duduk manis di atas kasur. Ini berarti berjalan, bersusah payah, meninggalkan kenyamanan, bahkan mengorbankan waktu tidur, harta, dan kesenangan.

Imam Asy-Syafi’i rahimahullah berkata:

شَكَوْتُ إِلَىٰ وَكِيعٍ سُوءَ حِفْظِي، فَأَرْشَدَنِي إِلَىٰ تَرْكِ الْمَعَاصِي، وَأَخْبَرَنِي بِأَنَّ الْعِلْمَ نُورٌ، وَنُورُ اللَّهِ لَا يُهْدَىٰ لِعَاصٍ
"Aku mengeluh kepada Waki’ tentang buruknya hafalanku. Ia menasihatiku: 'Tinggalkan maksiat! Karena ilmu itu cahaya, dan cahaya Allah tidak diberikan kepada pendosa.'"

Di sini, ilmu tidak hanya butuh usaha fisik, tapi juga kesucian hati dan pengorbanan moral.


Teladan Para Salaf: Ilmu yang Dibeli dengan Kaki Pecah dan Perut Lapar

  1. Imam Malik bin Anas
    Beliau belajar kepada 900 guru. Untuk menemui satu syaikh, ia berjalan kaki puluhan kilometer di bawah terik matahari Madinah—kakinya melepuh, tapi semangatnya tak pernah padam.
  2. Imam Ahmad bin Hambal
    Beliau menempuh perjalanan jauh hanya untuk mendengar satu hadits. Ia berkata:

    "Aku berjalan ke Yaman hanya untuk mendengar satu hadits dari Abdul Razzaq."

  3. Ibnu Abbas radhiyallahu ‘anhuma
    Ketika masih muda, ia menunggu di depan pintu rumah sahabat yang lebih tua, hanya untuk bertanya satu ayat. Ia rela tidak makan seharian demi menunggu kesempatan belajar.

Mereka tidak menunggu ilmu datang, tapi mengejar ilmu sampai ke ujung dunia.


"Tubuh yang Santai" di Zaman Modern

Hari ini, "tubuh yang santai" bisa berarti:

  • Belajar sambil rebahan di kasur, lalu tertidur di tengah kajian.
  • Mengandalkan ringkasan tanpa memahami dalil asli.
  • Tidak mau hadir di majelis ilmu karena "capek" atau "malas keluar rumah".
  • Ingin jadi ahli agama dalam 5 menit, tanpa proses panjang.

Padahal, ilmu agama bukan informasi—ia adalah transformasi jiwa yang membutuhkan:

  • Kehadiran fisik dan hati,
  • Kedisiplinan waktu,
  • Kesabaran mengulang-ulang,
  • Kerendahan hati untuk terus bertanya.

Allah berfirman:

وَقُل رَّبِّ زِدْنِي عِلْمًا
"Dan katakanlah: 'Wahai Rabbku, tambahkanlah aku ilmu.'"
(QS. Thaha: 114)

Doa ini diucapkan setelah usaha, bukan sebagai pengganti usaha.


Ilmu yang Berkah Lahir dari Kesungguhan

Ilmu yang didapat dengan mudah—tanpa usaha, tanpa perjuangan—sering kali:

  • Cepat dilupakan,
  • Tidak diamalkan,
  • Tidak membekas di hati.

Sebaliknya, ilmu yang didapat dengan mengorbankan kenyamanan akan:

  • Melekat di hati,
  • Menjadi cahaya dalam gelap,
  • Menjadi syafaat di hari Kiamat.

Rasulullah ﷺ bersabda:

إِنَّ الْعُلَمَاءَ وَرَثَةُ الْأَنْبِيَاءِ
"Sesungguhnya ulama adalah pewaris para nabi."
(HR. Abu Dawud & Tirmidzi)

Tapi ingat: warisan ini tidak otomatis turun—ia harus dijemput dengan kaki yang letih, mata yang basah, dan hati yang lapar akan kebenaran.


Penutup: Bangkit dari Kesenangan, Menuju Cahaya Ilmu

Jangan biarkan kenyamanan menjadi penghalang antara dirimu dan ilmu.
Jangan jadikan rasa malas sebagai alasan untuk tetap bodoh dalam agama.

وَالَّذِينَ جَاهَدُوا فِينَا لَنَهْدِيَنَّهُمْ سُبُلَنَا
"Dan orang-orang yang bersungguh-sungguh (berjihad) untuk (mencari keridhaan) Kami, niscaya Kami tunjukkan kepada mereka jalan-jalan Kami."
(QS. Al-‘Ankabut: 69)

Ilmu adalah jalan Allah. Dan jalan itu tidak dilalui oleh yang duduk santai, tapi oleh yang berjalan dengan tekad, berlari dengan semangat, dan sujud dengan kerendahan hati.

Maka, bangunlah dari kenyamananmu.
Hadiri majelis ilmu,
baca kitab dengan penuh perhatian,
tulis catatan dengan tanganmu sendiri,
dan relakan waktu tidurmu untuk menghafal satu ayat.

Karena ilmu yang sejati tidak datang kepada yang rebahan—ia datang kepada yang berjuang.

وَاللَّهُ أَعْلَمُ بِالصَّوَابِ.

0 comments:

Posting Komentar

Copyright © Bayah Beriman | Designed With By Blogger Templates
Scroll To Top