Jumat, 12 Desember 2025

Jangan Sembarang Mengambil Ilmu: Menuntut Ilmu dengan Jalan yang Benar

 


Dalam era keterbukaan informasi seperti sekarang, ilmu agama—yang dulu hanya didapat dari majelis ulama atau kitab-kitab terpercaya—kini bisa diakses dalam hitungan detik: lewat media sosial, video pendek, podcast, atau unggahan blog. Namun, di balik kemudahan ini, tersembunyi bahaya besar: mengambil ilmu dari sumber yang salah, tidak kompeten, atau menyimpang.

Rasulullah ﷺ telah memperingatkan umatnya:

إِنَّ اللَّهَ لَا يَقْبِضُ الْعِلْمَ انْتِزَاعًا يَنْتَزِعُهُ مِنَ الْعِبَادِ، وَلَٰكِنْ يَقْبِضُ الْعِلْمَ بِقَبْضِ الْعُلَمَاءِ، حَتَّىٰ إِذَا لَمْ يُبْقِ عَالِمًا، اتَّخَذَ النَّاسُ رُءُوسًا جُهَّالًا، فَسُئِلُوا فَأَفْتَوْا بِغَيْرِ عِلْمٍ، فَضَلُّوا وَأَضَلُّوا
"Sesungguhnya Allah tidak mencabut ilmu dengan serta-merta dari hamba-hamba-Nya. Tetapi Allah mencabut ilmu dengan mewafatkan para ulama. Hingga ketika tidak tersisa seorang alim pun, manusia mengangkat pemimpin yang bodoh. Mereka ditanya, lalu berfatwa tanpa ilmu. Akibatnya, mereka sesat dan menyesatkan."
(HR. Al-Bukhari dan Muslim)

Hadits ini adalah peringatan dahsyat: ketika ilmu diambil dari orang yang bukan ahlinya, maka kesesatan akan menyebar, dan umat pun tersesat—bukan hanya di dunia, tapi juga di akhirat.


Mengapa Tidak Boleh Sembarang Mengambil Ilmu?

1. Ilmu Agama Bukan Opini Pribadi

Ilmu syar’i (agama) bukan seperti resep masakan atau tips gaya hidup yang bisa dikarang sesuka hati. Ia bersumber dari dua fondasi utama:

  • Al-Qur’an (firman Allah yang suci),
  • As-Sunnah (ajaran Nabi ﷺ yang shahih).

Mengambil ilmu dari orang yang tidak memahami kaidah tafsir, hadits, fiqh, dan ushuluddin berarti mengambil agama dari akal semata, yang rawan kesalahan, prasangka, dan penyimpangan.

2. Bahaya Mengikuti "Ulama Media Sosial" yang Tidak Jelas Sanadnya

Saat ini, banyak orang yang:

  • Tidak pernah belajar di bawah bimbingan ulama,
  • Tidak menguasai bahasa Arab,
  • Tidak paham perbedaan antara hadits shahih dan dha’if,
  • Tapi berani memberi fatwa, menghukumi halal-haram, atau menuduh sesat.

Nabi ﷺ bersabda:

مَنْ أَفْتَى النَّاسَ بِغَيْرِ عِلْمٍ فَإِثْمُهُ عَلَى مَنْ أَفْتَاهُ
"Barangsiapa berfatwa kepada manusia tanpa ilmu, maka dosanya ditanggung oleh orang yang memberi fatwa itu."
(HR. Abu Dawud, dishahihkan oleh Al-Albani)

3. Sanad Ilmu: Rantai Emas dalam Islam

Para ulama salaf sangat menjaga sanad—rantai guru yang menyampaikan ilmu hingga sampai kepada Nabi ﷺ. Imam Malik berkata:

"Ilmu ini (agama) diwariskan dari generasi ke generasi. Maka, lihatlah dari siapa kamu mengambilnya."

Mengambil ilmu tanpa memperhatikan sanad seperti minum air dari sungai yang tidak diketahui sumbernya: bisa jadi jernih di permukaan, tapi ternyata tercemar racun.


Ciri-Ciri Sumber Ilmu yang Boleh Diambil

  1. Memiliki dasar ilmu syar’i yang kuat
    — Belajar langsung dari ulama ahlus sunnah,
    — Mengenal kitab-kitab rujukan (seperti Shahih Bukhari, Muslim, Riyadhus Shalihin, kitab-kitab fiqh mazhab empat, dll).
  2. Tidak gegabah dalam berfatwa
    — Tidak menghukumi halal-haram tanpa dalil yang kuat,
    — Mengakui batas kemampuannya, dan merujuk kepada ulama ketika ragu.
  3. Berakhlak mulia dan zuhud
    — Tidak menggunakan ilmu untuk mencari popularitas, harta, atau kekuasaan,
    — Tidak mencela ulama lain tanpa adab.
  4. Berpegang pada manhaj Ahlus Sunnah wal Jama’ah
    — Tidak condong ke kelompok ekstrem, liberal, atau sesat.

Apa yang Harus Dilakukan?

Belajar dari ulama yang dikenal keshalihan dan keilmuannya—baik langsung maupun lewat rekaman kajian resmi.
Tidak terburu-buru menyebarkan informasi agama sebelum memastikan kebenarannya.
Bertanya kepada ahlinya jika ragu:

فَاسْأَلُوا أَهْلَ الذِّكْرِ إِن كُنتُمْ لَا تَعْلَمُونَ
"Maka bertanyalah kepada orang yang mempunyai ilmu, jika kamu tidak mengetahui."
(QS. An-Nahl: 43)
Jauhi akun atau konten yang menyebarkan ilmu tanpa dasar, apalagi yang provokatif, menghina, atau memecah belah umat.


Penutup: Ilmu Itu Amanah, Bukan Konten

Ilmu agama bukanlah bahan untuk viral, konten hiburan, atau alat untuk menjatuhkan lawan. Ia adalah cahaya yang membimbing ke surga, tapi bisa menjadi senjata makan tuan jika diambil sembarangan.

يَرْفَعِ اللَّهُ الَّذِينَ آمَنُوا مِنكُمْ وَالَّذِينَ أُوتُوا الْعِلْمَ دَرَجَاتٍ
"Allah akan mengangkat derajat orang-orang yang beriman di antaramu dan orang-orang yang diberi ilmu beberapa derajat."
(QS. Al-Mujadilah: 11)

Tapi ingat: derajat itu hanya untuk yang mengambil ilmu dengan jalan yang benar.

Maka, jangan sembarang mengambil ilmu.
Karena agamamu terlalu berharga untuk dipertaruhkan pada pendapat orang yang tidak layak.

Jagalah ilmu, maka ilmu akan menjagamu.
Jagalah hatimu dari kebodohan yang disangka ilmu.

وَاللَّهُ أَعْلَمُ بِالصَّوَابِ.

0 comments:

Posting Komentar

Copyright © Bayah Beriman | Designed With By Blogger Templates
Scroll To Top