لَيْسَ كَمِثْلِهِ شَيْءٌ ۖ وَهُوَ السَّمِيعُ الْبَصِيرُ
"Tidak ada sesuatu pun yang serupa dengan Dia, dan Dia-lah Yang Maha Mendengar, Maha Melihat."
(QS. Asy-Syura: 11)
Ayat ini menjadi prinsip utama dalam memahami sifat Allah: kita menetapkan sifat-Nya sebagaimana disebutkan, namun meyakini bahwa tidak ada satu pun makhluk yang menyerupai-Nya—baik dalam dzat, sifat, maupun perbuatan.
Apa Itu Tauhid Asma’ wa Sifat?
Secara istilah, Tauhid Asma’ wa Sifat berarti:
Mengimani bahwa Allah memiliki nama-nama yang indah (al-asma’ al-husna) dan sifat-sifat yang sempurna, sebagaimana yang Dia firmankan tentang Diri-Nya atau yang disampaikan oleh Rasul-Nya ﷺ, tanpa distorsi, penolakan, penyerupaan, atau penafsiran berlebihan.
Allah berfirman:
وَلِلَّهِ الْأَسْمَاءُ الْحُسْنَىٰ فَادْعُوهُ بِهَا
"Dan hanya milik Allah asma’ al-husna, maka berdoalah kepada-Nya dengan menyebut asma’ itu."
(QS. Al-A’raf: 180)
Dalam hadits shahih, Rasulullah ﷺ bersabda:
إِنَّ لِلَّهِ تِسْعَةً وَتِسْعِينَ اسْمًا، مِائَةٌ إِلَّا وَاحِدًا، مَنْ أَحْصَاهَا دَخَلَ الْجَنَّةَ
"Sesungguhnya Allah memiliki sembilan puluh sembilan nama—seratus kurang satu. Barangsiapa menghafal dan mengimaninya, ia masuk surga."
(HR. Al-Bukhari dan Muslim)
Empat Prinsip Penting dalam Memahami Asma’ wa Sifat Allah
Ulama Ahlus Sunnah menetapkan empat kaidah utama dalam memahami sifat Allah:
Itsbāt (Menetapkan)
Kita wajib menetapkan semua nama dan sifat yang Allah dan Rasul-Nya tetapkan—seperti Allah Maha Mendengar, Maha Melihat, Bersemayam di atas ‘Arsy (istiwa’), Memiliki Wajah, Tangan, Murka, Ridha, dan sebagainya—sesuai dengan keagungan-Nya.Tanẓīh (Menyucikan Allah dari Penyerupaan)
Kita meyakini bahwa tidak ada yang menyerupai Allah dalam dzat, sifat, maupun perbuatan. Sebagaimana firman-Nya:لَيْسَ كَمِثْلِهِ شَيْءٌ
"Tidak ada sesuatu pun yang serupa dengan Dia."Tafwīdh (Menyerahkan Hakikat “Bagaimana” kepada Allah)
Kita tidak menanyakan “bagaimana” sifat Allah (seperti “bagaimana” tangan-Nya atau “bagaimana” Ia bersemayam). Kita cukup beriman bahwa Allah memiliki sifat itu sesuai dengan kemuliaan-Nya, tanpa membayangkan bentuk atau batasan.Tanzīh min an-Naqā’ish (Menafikan Segala Kekurangan)
Kita menolak segala sifat kekurangan, lemah, butuh, atau kematian bagi Allah. Ia Maha Sempurna dalam segala aspek.
Contoh Penerapan Tauhid Asma’ wa Sifat
Ketika Al-Qur’an menyebut: يَدُ اللَّهِ فَوْقَ أَيْدِيهِمْ (“Tangan Allah di atas tangan mereka” – QS. Al-Fath: 10), kita meyakini bahwa Allah memiliki “Yad” (Tangan), namun bukan seperti tangan makhluk, dan kita tidak menafsirkannya sebagai kekuasaan atau nikmat secara semena-mena (seperti yang dilakukan sebagian kelompok).
Ketika disebut الرَّحْمَٰنُ عَلَى الْعَرْشِ اسْتَوَىٰ (“Yang Maha Pemurah bersemayam di atas ‘Arsy” – QS. Thaha: 5), kita meyakini bahwa Allah beristiwa’ di atas ‘Arsy, tanpa mengatakan “bagaimana”, dan tanpa menyerupakan-Nya dengan duduk atau bertempat seperti makhluk.
Rasulullah ﷺ bersabda dalam doa iftitah:
إِنَّكَ أَنْتَ الْأَوَّلُ فَلَيْسَ قَبْلَكَ شَيْءٌ، وَأَنْتَ الْآخِرُ فَلَيْسَ بَعْدَكَ شَيْءٌ، وَأَنْتَ الظَّاهِرُ فَلَيْسَ فَوْقَكَ شَيْءٌ، وَأَنْتَ الْبَاطِنُ فَلَيْسَ دُونَكَ شَيْءٌ
"Sesungguhnya Engkau adalah Yang Awal, tiada sesuatu sebelum-Mu; Engkau Yang Akhir, tiada sesuatu setelah-Mu; Engkau Yang Zahir, tiada sesuatu di atas-Mu; dan Engkau Yang Batin, tiada sesuatu lebih dekat daripada-Mu."
(HR. Muslim)
Hadits ini menegaskan sifat-sifat Allah yang unik, tanpa menyerupakan dengan ruang, arah, atau batasan makhluk.
Bahaya Menyimpang dalam Tauhid Asma’ wa Sifat
Penyimpangan dalam memahami sifat Allah telah menyebabkan munculnya berbagai aliran sesat:
- Kelompok Jahmiyyah dan Mu’tazilah: menolak sifat Allah (ta’thil), mengatakan Al-Qur’an adalah makhluk.
- Kelompok Mujassimah: menyerupakan Allah dengan makhluk (tasybih).
- Kelompok Ta’wiliyyah: menafsirkan sifat Allah secara semena-mena (misal: “Yad” = kekuasaan).
Ahlus Sunnah berada di jalan tengah: menetapkan tanpa menyerupakan, menyucikan tanpa meniadakan.
Manfaat Mengimani Tauhid Asma’ wa Sifat
- Menguatkan hubungan dengan Allah: saat tahu bahwa Allah Maha Mendengar, kita jaga lisan; saat tahu Ia Maha Melihat, kita jaga perbuatan.
- Menumbuhkan cinta dan takut: nama-nama seperti Ar-Rahman, Al-Wadud membangkitkan cinta; Al-Jabbar, Al-Muntaqim menumbuhkan rasa takut.
- Menjadi dasar doa: kita berdoa dengan nama-nama Allah sesuai kebutuhan, seperti meminta rahmat dengan menyebut Ar-Rahim, atau meminta perlindungan dengan Al-Hafizh.
Penutup: Iman yang Menyejukkan Hati
Tauhid Asma’ wa Sifat bukanlah teori filsafat, tapi keyakinan yang menghidupkan hati. Ia mengajarkan kita untuk mengenal Rabb kita sebagaimana Dia mengenalkan Diri-Nya—dengan penuh keagungan, kesucian, dan kecintaan.
Mari kita jaga akidah ini sebagaimana dijaga oleh para salaf:
آمَنَّا بِهِ كُلٌّ مِنْ عِنْدِ رَبِّنَا
"Kami beriman kepadanya, semuanya berasal dari sisi Rabb kami."
(QS. Ali ‘Imran: 7)
Semoga Allah Subhanahu wa Ta’ala menjadikan kita termasuk hamba-hamba-Nya yang mengimani nama dan sifat-Nya dengan iman yang benar, hati yang tunduk, dan lisan yang selalu berdzikir dengan asma’ al-husna.
وَلِلَّهِ الْأَسْمَاءُ الْحُسْنَىٰ فَادْعُوهُ بِهَا، وَذَرُوا الَّذِينَ يُلْحِدُونَ فِي أَسْمَائِهِ
"Dan hanya milik Allah asma’ al-husna, maka berdoalah kepada-Nya dengan menyebut asma’ itu, dan tinggalkanlah orang-orang yang menyimpang dalam (memahami) nama-nama-Nya."
(QS. Al-A’raf: 180)
Wallahu a’lam bish-shawab.

0 comments:
Posting Komentar