Rasulullah ﷺ bersabda:
«إِيَّاكَ وَالتَّنَعُّمَ، فَإِنَّ عِبَادَ اللَّهِ لَيْسُوا بِالْمُتَنَعِّمِينَ»
"Jauhilah sifat gemar bersenang-senang (at-tana’um), karena hamba Allah yang sejati bukanlah orang yang gemar bersenang-senang."
(HR. Ahmad 5/243–244, Ath-Thabrani, Abu Nu’aim — dinilai hasan oleh para ulama, termasuk Syaikh Al-Albani)
Hadits ini bukan larangan terhadap kenikmatan halal, melainkan peringatan keras terhadap sikap hidup yang menjadikan kemewahan, kemudahan, dan kesenangan duniawi sebagai tujuan utama. Ia adalah nasihat spiritual agar seorang mukmin tidak terlena oleh dunia hingga lupa akhirat.
Makna “At-Tana’um” (التَّنَعُّم)
Kata at-tana’um berasal dari an-na’im (kenikmatan), yang dalam konteks ini berarti:
Berlebih-lebihan dalam mengejar kenyamanan, kemewahan, dan kesenangan duniawi, hingga melupakan tujuan hidup sejati: beribadah kepada Allah dan mempersiapkan diri untuk akhirat.
Ini mencakup:
- Hidup bermewah-mewah tanpa batas,
- Menghindari kesulitan, kepayahan, atau pengorbanan dalam ibadah,
- Menjadikan kenyamanan sebagai standar utama dalam memilih jalan hidup,
- Mengabaikan amal shalih karena “terlalu repot” atau “mengganggu kenyamanan”.
Berbeda dengan menikmati rezeki halal yang diberikan Allah—seperti makan enak, berpakaian layak, atau tinggal di rumah nyaman—selama tidak berlebihan, tidak sombong, dan tetap bersyukur.
Siapa “Hamba Allah yang Sejati”?
Allah menyifati hamba-Nya yang mulia dalam Al-Qur’an:
وَعِبَادُ الرَّحْمَٰنِ الَّذِينَ يَمْشُونَ عَلَى الْأَرْضِ هَوْنًا وَإِذَا خَاطَبَهُمُ الْجَاهِلُونَ قَالُوا سَلَامًا
"Dan hamba-hamba Tuhan Yang Maha Penyayang itu (ialah) orang-orang yang berjalan di atas bumi dengan rendah hati..."
(QS. Al-Furqan: 63)
Mereka adalah orang yang:
- Zuhud terhadap dunia, tidak terikat oleh kemewahannya,
- Rela berkorban demi ketaatan,
- Tidak takut susah dalam menuntut ilmu, berdakwah, atau berjihad,
- Tidur larut malam untuk Tahajjud, bukan untuk hiburan,
- Makan secukupnya, bukan untuk pesta pora.
Rasulullah ﷺ sendiri, meski sebagai Nabi dan pemimpin umat, hidup sederhana:
- Tidurnya di atas tikar yang meninggalkan bekas di pipi,
- Perutnya sering lapar,
- Pakaian dan rumahnya sederhana.
Beliau bersabda:
«لَوْ شِئْتُ لَجَعَلَ اللَّهُ لِي جِبَالًا مِنْ ذَهَبٍ، وَلَكِنِّي أَسْأَلُ اللَّهَ الْعَفَافَ وَالتَّقْوَى»
"Seandainya aku mau, Allah pasti jadikan gunung-gunung emas untukku. Tapi aku memohon kepada-Nya: ‘afaf (kesucian diri) dan taqwa.’"
(HR. Ahmad, dishahihkan)
Mengapa At-Tana’um Dilarang?
- Melemahkan Semangat Ibadah
Orang yang terbiasa nyaman cenderung malas shalat malam, enggan berpuasa sunnah, atau ogah berjihad—karena semua itu “mengganggu kenyamanan”. - Menumbuhkan Sifat Sombong dan Takabbur
Kemewahan sering melahirkan perasaan superior, merendahkan yang miskin, dan lupa bahwa semua adalah karunia Allah. - Mengalihkan dari Akhirat
Dunia menjadi tujuan, bukan jalan. Hati terikat pada rumah, mobil, dan gaya hidup—bukan pada surga dan ridha Ilahi. - Menyerupai Gaya Hidup Orang Kafir
Allah berfirman:وَلَا تَمُدَّنَّ عَيْنَيْكَ إِلَىٰ مَا مَتَّعْنَا بِهِ أَزْوَاجًا مِنْهُمْ زَهْرَةَ الْحَيَاةِ الدُّنْيَا
"Dan janganlah engkau tujukan pandanganmu kepada apa yang telah Kami berikan kepada beberapa golongan mereka, berupa perhiasan kehidupan dunia..."
(QS. Thaha: 131)
Bukan Berarti Harus Menyiksa Diri
Islam tidak menyuruh umatnya hidup seperti rahib, menjauhi semua kenikmatan.
Allah berfirman:
قُلْ مَنْ حَرَّمَ زِينَةَ اللَّهِ الَّتِي أَخْرَجَ لِعِبَادِهِ وَالطَّيِّبَاتِ مِنَ الرِّزْقِ
"Katakanlah: ‘Siapakah yang mengharamkan perhiasan dari Allah yang telah dikeluarkan-Nya untuk hamba-hamba-Nya dan rezeki yang baik?’"
(QS. Al-A’raf: 28)
Yang dilarang adalah menjadikan kesenangan sebagai pusat hidup, bukan menikmati rezeki halal dengan sikap syukur dan sederhana.
Penutup: Hidup di Dunia Seperti Musafir
Umar bin Khaththab radhiyallahu ‘anhu berkata:
"Kita bukanlah kaum yang diciptakan untuk bersenang-senang, tapi untuk beribadah dan berjuang."
Dan Hasan Al-Bashri rahimahullah mengingatkan:
"Dunia bukan tempat untuk bersenang-senang, tapi tempat ujian. Akhiratlah tempat kenikmatan sejati."
Maka, jangan jadikan dunia sebagai tujuan.
Nikmatilah secukupnya,
syukurilah seikhlasnya,
tapi jangan pernah lupa:
Kita semua adalah musafir yang sedang dalam perjalanan menuju akhirat.
وَمَا الْحَيَاةُ الدُّنْيَا إِلَّا مَتَاعُ الْغُرُورِ
"Dan kehidupan dunia ini hanyalah kesenangan yang menipu."
(QS. Ali ‘Imran: 185)
Semoga Allah Subhanahu wa Ta’ala menjadikan kita termasuk hamba-hamba-Nya yang zuhud terhadap dunia, cinta pada akhirat, dan ridha dengan rezeki yang halal lagi sederhana.
آمين يا رب العالمين.

0 comments:
Posting Komentar