Di antara ibadah sunnah yang paling dinantikan umat Islam setiap tahun adalah shalat Tarawih—shalat malam khusus yang hanya dikerjakan di bulan suci Ramadhan. Ia bukan sekadar ritual, melainkan rahmat khusus dari Allah, kesempatan emas untuk membersihkan diri dari dosa, dan sarana mendekatkan diri kepada-Nya di malam-malam yang penuh keberkahan.
Rasulullah ﷺ bersabda:
مَنْ قَامَ رَمَضَانَ إِيمَانًا وَاحْتِسَابًا غُفِرَ لَهُ مَا تَقَدَّمَ مِنْ ذَنْبِهِ
"Barangsiapa shalat malam di bulan Ramadhan karena iman dan mengharap pahala, diampuni dosa-dosanya yang telah lalu."
(HR. Al-Bukhari dan Muslim)
Inilah janji agung dari Allah melalui lisan Nabi-Nya: pengampunan dosa setahun penuh, hanya dengan shalat Tarawih yang ikhlas dan penuh keyakinan.
Apa Itu Shalat Tarawih?
Kata Tarawih berasal dari tarwiha (istirahat), karena para sahabat beristirahat sejenak setiap selesai dua atau empat rakaat akibat lamanya bacaan. Shalat ini termasuk qiyamul lail di bulan Ramadhan, dan hukumnya sunnah mu’akkadah—sangat dianjurkan, baik bagi laki-laki maupun perempuan.
Nabi ﷺ pernah shalat Tarawih berjamaah di masjid selama tiga malam, lalu berhenti karena khawatir diwajibkan. Namun, beliau tetap mengerjakannya secara sendiri di rumah. Setelah wafat, Khalifah Umar bin Khaththab radhiyallahu ‘anhu menghidupkan kembali shalat Tarawih berjamaah di masjid, dan berkata:
نِعْمَتِ الْبِدْعَةُ هَذِهِ!
"Alangkah baiknya bid’ah ini!"
(Maksudnya: bid’ah secara bahasa—perkara baru yang baik—bukan bid’ah dalam ibadah yang menyalahi syariat.)
(HR. Al-Bukhari)
Jumlah Rakaat Tarawih: Sunnah yang Fleksibel
Ada dua riwayat shahih dari Nabi ﷺ tentang jumlah rakaat Tarawih:
- 8 rakaat + 3 rakaat Witir
Berdasarkan hadits Aisyah radhiyallahu ‘anha:"Rasulullah tidak pernah shalat malam lebih dari 11 rakaat—di Ramadhan maupun di luar Ramadhan."
(HR. Al-Bukhari dan Muslim) - 20 rakaat + Witir
Diamalkan oleh Khalifah Umar, Utsman, dan Ali radhiyallahu ‘anhum, serta diikuti mayoritas sahabat dan ulama (termasuk Imam Abu Hanifah, Malik, dan Ahmad).
Kesimpulan para ulama:
Keduanya sah dan boleh diamalkan.
Yang penting adalah khusyuk, tidak tergesa-gesa, dan menjaga Witir sebagai penutup.
Imam Ibnu Taimiyah berkata:
"Shalat Tarawih itu luas—boleh 8, 20, atau lebih, selama tidak dianggap wajib."
Waktu Pelaksanaan Tarawih
- Dimulai setelah shalat Isya hingga sebelum terbit fajar.
- Paling utama: setelah Isya hingga sebelum tidur, atau di sepertiga malam terakhir (jika mampu bangun).
- Witir wajib mengakhiri Tarawih, karena Nabi ﷺ bersabda:
"Jadikanlah akhir shalat malam kalian sebagai shalat Witir."
(HR. Muslim)
Keutamaan Shalat Tarawih
- Diampuni Dosa yang Lalu
Sebagaimana disebut dalam hadits di atas—syaratnya: ikhlas (iman) dan mengharap pahala (ihtisab). - Mendapatkan Pahala Seperti Shalat Semalam Penuh
Nabi ﷺ bersabda:"Barangsiapa shalat Isya berjamaah, lalu shalat Tarawih berjamaah, ia seperti shalat separuh malam. Dan barangsiapa shalat Subuh berjamaah, ia seperti shalat semalam penuh."
(HR. Muslim) - Menghidupkan Malam Ramadhan
Allah berfirman:تَنَزَّلُ الْمَلَائِكَةُ وَالرُّوحُ فِيهَا بِإِذْنِ رَبِّهِمْ مِنْ كُلِّ أَمْرٍ
"Pada malam itu, para malaikat dan Jibril turun membawa segala urusan."
(QS. Al-Qadr: 4)
Shalat Tarawih adalah cara terbaik menyambut malam Lailatul Qadar. - Mempererat Ukhuwah Umat
Shalat berjamaah di masjid memperkuat ikatan persaudaraan, saling mengingatkan, dan menumbuhkan semangat ibadah.
Adab dalam Shalat Tarawih
- Jangan tergesa-gesa—baca Al-Qur’an dengan tartil, rukuk dan sujud dengan khusyuk.
- Jangan meninggalkan Witir, baik 1, 3, atau lebih rakaat.
- Perempuan boleh shalat Tarawih di rumah—bahkan lebih utama menurut sebagian ulama.
- Jangan jadikan Tarawih sebagai beban, tapi sebagai kesempatan rahmat.
- Ajak keluarga, terutama anak-anak, untuk membiasakan shalat malam sejak dini.
Tarawih dan Khatam Al-Qur’an
Salah satu sunnah indah di bulan Ramadhan adalah mengkhatamkan Al-Qur’an dalam shalat Tarawih. Imam Malik dan ulama salaf biasa mendengarkan satu juz per malam (30 juz selama 30 malam). Ini bukan kewajiban, tapi sarana tadabbur dan tarbiyah ruhiyah.
Namun, jangan korbankan kualitas shalat demi kejaran khatam. Lebih baik sedikit tapi khusyuk, daripada cepat tapi tanpa makna.
Penutup: Jangan Sia-Siakan Ramadhan Tanpa Tarawih
Shalat Tarawih adalah hadiah Ramadhan yang tak ternilai. Ia adalah tangga pengampunan, pintu rahmat, dan latihan spiritual untuk memperbaiki diri sepanjang tahun.
Maka, jangan biarkan malam-malam Ramadhan berlalu hanya dengan tidur atau hiburan.
Jadikan masjid sebagai rumah kedua,
jadikan setiap rakaat sebagai langkah menuju surga,
dan jadikan Tarawih sebagai sarana taubatmu yang tulus.
إِنَّا أَنزَلْنَاهُ فِي لَيْلَةِ الْقَدْرِ • وَمَا أَدْرَاكَ مَا لَيْلَةُ الْقَدْرِ • لَيْلَةُ الْقَدْرِ خَيْرٌ مِّنْ أَلْفِ شَهْرٍ
"Sesungguhnya Kami menurunkannya pada malam Lailatul Qadar. Dan tahukah kamu apakah malam Lailatul Qadar itu? Malam Lailatul Qadar lebih baik daripada seribu bulan."
(QS. Al-Qadr: 1–3)
Semoga Allah Subhanahu wa Ta’ala menjadikan kita termasuk hamba-hamba-Nya yang menghidupkan Ramadhan dengan Tarawih, menangkap Lailatul Qadar, dan kembali suci seperti hari dilahirkan.
آمين يا رب العالمين.

0 comments:
Posting Komentar