Di antara amalan sunnah yang paling dekat dengan keseharian seorang Muslim adalah shalat sunnah rawatib—shalat yang mengiringi shalat wajib, baik sebelum maupun sesudahnya. Meski hukumnya tidak wajib, shalat rawatib memiliki kedudukan tinggi di sisi Allah dan menjadi penyempurna kekurangan dalam shalat fardhu. Rasulullah ﷺ sendiri tidak pernah meninggalkannya, bahkan saat dalam perjalanan atau kondisi lelah.
Allah Subhanahu wa Ta’ala mencintai hamba-Nya yang menjaga amalan sunnah ini. Dan dalam sabda yang mulia, Nabi ﷺ menjanjikan balasan yang luar biasa:
مَا مِنْ عَبْدٍ مُسْلِمٍ يُصَلِّي لِلَّهِ كُلَّ يَوْمٍ ثِنْتَيْ عَشْرَةَ رَكْعَةً تَطَوُّعًا، غَيْرَ فَرِيضَةٍ، إِلَّا بَنَى اللَّهُ لَهُ بَيْتًا فِي الْجَنَّةِ
"Tidaklah seorang hamba Muslim shalat karena Allah setiap hari dua belas rakaat (shalat sunnah) selain shalat wajib, melainkan Allah akan bangunkan baginya rumah di surga."
(HR. Muslim)
Dua belas rakaat itulah yang dikenal sebagai shalat sunnah rawatib.
Apa Itu Shalat Sunnah Rawatib?
Shalat rawatib berasal dari kata riyadhah (latihan) atau rutbah (kedekatan), yang berarti sholat sunnah yang rutin mengiringi shalat fardhu. Ia terbagi menjadi dua:
1. Rawatib Mu’akkadah (Sunnah yang Ditekankan)
Shalat yang selalu dikerjakan oleh Nabi ﷺ dan jarang sekali ditinggalkan. Hukumnya sangat dianjurkan (sunnah mu’akkadah), dan meninggalkannya tanpa udzur dianggap kurang sempurna dalam beribadah.
Jumlahnya 10 rakaat:
- 2 rakaat sebelum Subuh → paling utama dari semua shalat sunnah
- 2 rakaat setelah Dzuhur
- 2 rakaat setelah Maghrib
- 2 rakaat setelah Isya
- 2 rakaat sebelum Dzuhur (sebagian ulama memasukkannya dalam mu’akkadah)
2. Rawatib Ghairu Mu’akkadah (Sunnah yang Tidak Ditekankan)
Shalat yang kadang dikerjakan, kadang ditinggalkan oleh Nabi ﷺ. Tetap dianjurkan, tapi tidak sekuat yang mu’akkadah.
Contohnya:
- 2 atau 4 rakaat sebelum Ashar
- 2 rakaat sebelum Maghrib (dikerjakan jika sempat, setelah adzan dan sebelum iqamah)
- 2 rakaat sebelum Isya
Catatan: Tidak ada shalat sunnah qabliyah (sebelum) Ashar dan Maghrib yang mu’akkadah. Namun, boleh dikerjakan sebagai ghairu mu’akkadah jika waktunya memungkinkan.
Keutamaan Shalat Rawatib
- Menyempurnakan Shalat Wajib yang Kurang
Di hari Kiamat, shalat wajib akan dihisab terlebih dahulu. Jika ada kekurangan—misalnya kurang khusyuk, gerakan terburu-buru, atau bacaan tidak sempurna—maka shalat rawatib akan melengkapinya.
Nabi ﷺ bersabda:"Allah berfirman: ‘Lihatlah, apakah hamba-Ku memiliki shalat sunnah?’ Maka shalat sunnah itu digunakan untuk menyempurnakan shalat wajibnya."
(HR. At-Tirmidzi, dishahihkan) - Dibangunkan Rumah di Surga
Sebagaimana disebutkan dalam hadits Muslim, 12 rakaat rawatib harian menjadi sebab Allah membangun rumah di surga untuk pelakunya. - Penguat Iman dan Kedisiplinan Spiritual
Orang yang menjaga rawatib menunjukkan komitmen tinggi terhadap ibadah, bahkan di luar kewajiban. Ini mencerminkan hati yang hidup dan cinta kepada Allah.
Adab dan Tata Cara Shalat Rawatib
- Dikerjakan sendiri (munfarid), tidak berjamaah (kecuali dalam kondisi khusus seperti mengimami istri).
- Lebih utama dikerjakan di rumah, berdasarkan sabda Nabi ﷺ:
"Shalatlah kalian di rumah kalian, kecuali shalat wajib."
(HR. Al-Bukhari dan Muslim) - Tidak boleh dikerjakan saat terlarang shalat, seperti:
- Setelah Subuh hingga matahari terbit
- Saat matahari tepat di atas kepala (menjelang Dzuhur)
- Setelah Ashar hingga matahari terbenam
→ Kecuali shalat rawatib qabliyah Subuh dan ba’diyah Maghrib, yang boleh dikerjakan meski masuk waktu terlarang karena ada sebab (mengiringi fardhu).
- Tidak boleh mengulang shalat rawatib jika terlupa atau tertinggal, kecuali shalat sunnah Fajar (2 rakaat sebelum Subuh), yang boleh diqadha setelah shalat Subuh.
Shalat Sunnah Fajar: Permata Rawatib
Dua rakaat sebelum Subuh adalah shalat sunnah yang paling dicintai oleh Nabi ﷺ. Beliau bersabda:
رَكْعَتَا الْفَجْرِ خَيْرٌ مِنَ الدُّنْيَا وَمَا فِيهَا
"Dua rakaat shalat sunnah Fajar lebih baik daripada dunia dan isinya."
(HR. Muslim)
Beliau bahkan mengerjakannya saat safar (bepergian), padahal shalat sunnah lainnya biasanya ditinggalkan dalam perjalanan.
Penutup: Jangan Biarkan Rawatib Terlewat
Shalat rawatib bukan beban—ia adalah kesempatan emas untuk memperbanyak amal tanpa harus menunggu waktu khusus. Hanya butuh 5–10 menit tambahan setiap hari, namun ganjarannya rumah di surga dan cinta dari Allah Yang Maha Pengasih.
Mari kita mulai hari ini:
- Bangun 10 menit lebih awal untuk 2 rakaat sebelum Subuh.
- Setelah adzan Dzuhur, jangan buru-buru makan—tunaikan 4 rakaat sebelum dan 2 sesudah.
- Usai Maghrib dan Isya, jangan langsung rebahan—sholatlah 2 rakaat sunnah sebagai penutup.
Karena setiap rakaat rawatib adalah batu bata untuk rumahmu di surga, dan setiap sujud adalah langkah menuju ridha Ilahi.
فَاسْتَبِقُوا الْخَيْرَاتِ
"Maka berlomba-lombalah dalam kebaikan."
(QS. Al-Baqarah: 148)
Semoga Allah Subhanahu wa Ta’ala menjadikan kita termasuk hamba-hamba-Nya yang menjaga shalat wajib dan tidak meremehkan shalat sunnah rawatib, sehingga kelak kita termasuk yang dipanggil dengan penuh kasih sayang:
ادْخُلُوا الْجَنَّةَ بِسَلَامٍ
"Masuklah ke dalam surga dengan penuh kedamaian."
آمين يا رب العالمين.

0 comments:
Posting Komentar